Kamis, 17 Juni 2010

pendidikan anak usia dini

Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14). Pengertian Istilah Makna Artikel Ilmu Pendidikan Konten

Sedangkan menurut NAEYC anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 8 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Masitoh dkk., 2005: 112 – 113).

Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi dan seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Mengingat pentingnya masa ini, maka peran stimulasi berupa penyediaan lingkungan yang kondusif harus disiapkan oleh para pendidik, baik orang tua, guru, pengasuh ataupun orang dewasa lain yang ada disekitar anak, sehingga anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan seluruh potensinya. Potensi yang dimaksud meliputi aspek moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif, fisik/motorik, dan seni. Pendidikan anak usia dini diberikan pada awal kehidupan anak untuk dapat berkembang secara optimal.

Atas dasar hal tersebut di atas, maka perlu diketahui dasar-dasar serta ruang lingkup pendidikan anak usia dini yang dikembangkan berdasarkan karakteristik perkembangan anak agar dapat digunakan oleh para pendidik anak usia dini dalam mengembangkan seluruh potensi anak.

DASAR-DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dilaksanakan atas dasar kebanyakan orang tua merasa tidak mampu memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.  Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial anak. Tumbuh kembang ini berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun apabila tidak diintervensi secara dini dengan baik dan tidak terdeteksi secara nyata akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya.

Penyelenggaraan pendidikan pada anak usia dini di negara maju telah berlangsung lama sebagai bentuk pendidikan yang berbasis masyarakat (community based education), akan tetapi gerakan untuk menggalakkan pendidikan ini di Indonesia baru muncul beberapa tahun terakhir. Hal ini didasarkan akan pentingnya pendidikan untuk anak usia dini dalam menyiapkan manusia Indonesia seutuhnya, serta membangun masa depan anak-anak dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Namun sejauh ini jangkauan pendidikan anak usia dini masih terbatas dari segi jumlah maupun aksesibilitasnya. Misalnya, penitipan anak dan kelompok bermain masih terkonsentrasi di kota-kota. Padahal bila dilihat dari tingkat kebutuhannya akan perlakuan sejak dini, anak-anak usia dini di pedesaan dan dari keluarga miskin jauh lebih tinggi guna mengimbangi miskinnya rangsangan intelektual, sosial, dan moral dari keluarga dan orang tua.

Ada empat pertimbangan pokok pentingnya pendidikan anak usia dini, yaitu: (1) menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas, (2) meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat, (3) menolong para orang tua dan anak-anak (http://www.membuatblog.web.id/2010/06/pendidikan-anak-usia-dini.html, diakses pada tanggal 20 Februari 2011).

Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Pendidikan anak usia dini sepatutnya juga mencakup seluruh proses stimulasi psikososial dan tidak terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi dalam lembaga pendidikan. Artinya, pendidikan anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan dari hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak usia dini.  Hal ini didasarkan kepada beberapa penemuan para ahli tentang tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Berikut ini beberapa tokoh yang mengemukakan teori tentang pentingnya landasan pendidikan bagi anak usia dini.

    Wittrock (Clark, 1983) mengemukakan bahwa ada tiga wilayah perkembangan otak yang semakin meningkat, yaitu pertumbuhan serabut dendrit, kompleksitas hubungan sinapsis, dan pembagian sel saraf. Peran ketiga wilayah otak tersebut sangat penting untuk pengembangan kapasitas berpikir manusia. Sejalan dengan itu Teyler mengemukakan bahwa pada saat lahir otak manusia berisi sekitar 100 milyar hingga 200 milyar sel saraf. Tiap sel saraf siap berkembang sampai taraf tertinggi dari kapasitas manusia jika mendapat stimulasi yang sesuai dari lingkungan.

  •     Marthin Luther

Tujuan landasan adanya pendidikan menurut Mathin Luther adalah mengajarkan agama. Keluarga merupakan sentra utama dalam menghadapi pendidikan anak.


  •     Jean Jacques Rousseau

Menurut Rousseau, Tuhan menciptakan segalanya dengan baik. Adanya campur tangan manusia menjadikannya jahat. Pendidikan menurutnya harus kembali ke alam, dan dia berpendapat bahwa pendidikan bersifat alamiah.

  •     Frederich Wilhelm Frobel

Frobel merupakan Bapak PAUD sebab Frobel adalah pencipta Kindergarten. Ia mengaitkan pendidikan dengan hubungan individu, Tuhan, dan alam. Bermain merupakan metode pendidikan anak dalam meniru kehidupan orang dewasa secara wajar.

  •     John Dewey

Teori Dewey yang terkenal adalah progresivisme, yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajaran sendiri. Dia mengatakan bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang.

  •     Benjamin Bloom

Bloom mengamati kecerdasan anak dalam rentang waktu tertentu. Ia menghasilkan taksonomi Bloom. Kecerdasan anak pada usia 15 tahun merupakan hasil dari pendidikan pada anak usia dini.

    Jean Piaget (1972) dalam Padmonodewo (2003: 23) mengemukakan tentang bagaimana anak belajar:“ Anak belajar melalui interaksi dengan lingkungannya. Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru bisa menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, dan ia harus menemukannya sendiri.”

    Lev Vigostsky meyakini bahwa pengalaman interaksi sosial merupakan hal yang penting bagi perkembangan proses berpikir anak. Aktivitas mental yang tinggi pada anak dapat terbentuk melalui interaksi dengan orang lain. Pembelajaran akan menjadi pengalaman yang bermakna bagi anak jika ia dapat melakukan sesuatu atas lingkungannya.

    Howard Gardner menyatakan tentang kecerdasan jamak dalam perkembangan manusia terbagi menjadi: kecerdasan bodily kinestetik, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalistik, kecerdasan logiko matematik, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musik.

Dengan demikian perkembangan kemampuan berpikir manusia sangat berkaitan dengan struktur otak, sedangkan struktur otak itu sendiri dipengaruhi oleh stimulasi, kesehatan dan gizi yang diberikan oleh lingkungan sehingga peran pendidikan yang sesuai bagi anak usia dini sangat diperlukan.

  • PILAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Kebijakan pelaksanaan pendidikan bagi anak usia dini didasarkan pada tiga pilar kebijakan yaitu (1) Perluasan dan pemerataan layanan PAUD kepada semua anak, (2) Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing, dan (3) Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik. (Hadiati, Lita.2010)

Perluasan dan pemerataan akses layanan PAUD kepada semua anak dapat dilakukan dengan cara memberdayakan semua potensi yang ada di masyarakat melalui kerjasama kemitraan, merintis model-model PAUD atau Rintisan PAUD yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah, mendorong partisipasi masyarakat melalui berbagai sosialisasi, lomba jurnalistik di bidang PAUD, dan pemilihan PAUD inovatif, memberikan stimulasi dengan berbagai dukungan kelembagaan (block grant) serta melalui program pendidikan dan pengembangan PAUD.

Peningkatan mutu, relevansi, daya saing dapat dilakukan dengan cara mengembangkan mutu pembelajaran generic yang merupakan acuan yang menyangkut pengembangan kurikulum khususnya materi bahan ajar, model-model pembelajaran dan penilaian, pengembangan rujukan PAUD dengan melakukan kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi.

Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik dapat dilakukan dengan melaksanakan orientasi teknis kepada Pembina dan pengelola PAUD daerah dan magang bagi pendidik atau pengelola PAUD, berbagai workshop untuk pengembangan metode dan teknik pembelajaran PAUD, penyempurnaan acuan-acuan atau pedoman teknis.

  • RUANG LINGKUP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

Pendidikan anak usia dini memiliki standar kompetensi yang didasarkan pada perkembangan anak. Standar kompetensi ini digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini. Standar kompetensi anak usia dini terdiri atas pengembangan aspek-aspek sebagai berikut: a) Moral dan nilai-nilai agama, b) Sosial, emosional, dan kemandirian, c) Bahasa, d) Kognitif, e) Fisik/Motorik, dan f) Seni.

  •  Ruang Lingkup Materi Pembelajaran PAUD

Pembelajaran pada anak usia dini dilakukan melalui kegiatan bermain yang dipersiapkan oleh pendidik dengan menyiapkan materi (content), dan proses belajar. Materi belajar bagi anak usia dini dibagi dalam 2 kelompok usia, yaitu sebagai berikut.




  • Materi Usia Lahir sampai 3 Tahun

Pengembangan materi pembelajaran untuk usia lahir sampai 3 athun meliputi (1) Pengenalan diri sendiri ( Perkembangan konsep diri), (2) Pengenalan perasaan (Perkembangan emosi), (3)  Pengenalan tentang Orang lain (Perkembangan Sosial), (4) Pengenalan berbagai gerak (perkembangan Fisik), (5) Mengembangkan komunikasi (Perkembangan bahasa), (6) Ketrampilan berfikir (Perkembangan kognitif)

  •  Materi untuk Anak Usia 3 Tahun ke Atas

            Pengembangan materi untuk anak usia 3 tahun ke atas meliputi:

1) Keaksaraan mencakup peningkatan kosa kata dan bahasa, kesadaran phonologi, wawasan pengetahuan, percakapan, memahami buku-buku, dan teks lainnya.

2) Konsep Matematika mencakup pengenalan angka-angka, pola-pola dan hubungan, geometri dan kesadaran ruang, pengukuran, pengumpulan data, pengorganisasian, dan mempresentasikannya.

3) Pengetahuan Alam lebih menekankan pada objek fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan.

4) Pengetahuan Sosial mencakup hidup orang banyak, bekerja, berinteraksi dengan yang lain, membentuk, dan dibentuk oleh lingkungan. Komponen ini membahas karakteristik tempat hidup manusia, dan hubungannya antara tempat yang satu dengan yang lain, juga hubungannya dengan orang banyak. Anak-anak mempelajari tentang dunia dan pemetaannya, misalnya dalam rumah ada ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi, dapur, ruang keluarga, ruang belajar; di luar rumah ada taman, garasi, dll. Setiap rumah memiliki tetangga dalam jarak dekat atau jauh.

5) Seni mencakup menari, musik, bermain peran, menggambar dan melukis. Menari, adalah mengekspresikan ide ke dalam gerakan tubuh dengan mendengarkan musik, dan menyampaikan perasaan. Musik, adalah mengkombinasikan instrumen untuk menciptakan melodi dan suara yang menyenagkan. Drama, adalah mengungkapkan cerita melalui aksi, dialog, atau keduanya. Seni juga mencakup melukis, menggambar, mengoleksi sesuatu, modeling, membentuk dengan tanah liat atau materi lain, menyusun bangunan, membuat boneka, mencap dengan stempel, dll.

6) Teknologi mencakup alat-alat dan penggunaan operasi dasar. Kesadaran Teknologi. Komponen ini membahas tentang alat-alat teknologi yang digunakan anak-anak di rumah, di sekolah, dan pekerjaan keluarga. Anak-anak dapat mengenal nama-nama alat dan mesin yang digunakan oleh manusia sehari-hari.

7) Ketrampilan Proses mencakup pengamatan dan eksplorasi; eksperimen, pemecahan masalah; dan koneksi, pengorganisasian, komunikasi, dan informasi yang mewakili. Untuk mewadahi proses belajar bagi anak usa dini pendidik harus dapat melakukan penataan lingkungan main, menyediakan bahan–bahan main yang terpilih, membangun interaksi dengan anak dan membuat rencana kegiatan main untuk anak. Proses pembelajaran anak usia dini dilakukan melalui sentra atau area main. Sentra atau area tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dari masing-masing satuan Pendidikan. Contoh sentra atau area bermain tersebut antara lain : Sentra Balok, Sentra Bermain Peran, Sentra Seni, Sentra Musik, Sentra Persiapan, Sentra agama, dan Sentra Memasak.

  • Lingkungan Anak Usia Dini

Ekologi adalah suatu studi tentang bagaimana orang-orang berinteraksi dengan lingkungannya dan bagaimana hasilnya atau konsekuensi dari interaksi tersebut. Dengan berkembangnya lingkungan maka berkembang pula minat seseorang. Bronfer Brenner (1979) dalam Patmonodewo (2003: 45) melalui teori sistem ekologinya mampu menjelaskan perkembangan anak yang dihubungkan pada interakasi anak dengan lingkungannya secara terus menerus dan saling mempengaruhi satu sama lain secara transaksional.

Lingkungan anak usia dini mengandung lingkungan ekologi yang berorientasi pada :

  • Lingkungan fisik, yang terdiri dari objek, materi, dan ruang. Lingkungan fisik yang berbeda akan mempengaruhi anak.
  • Lingkungan yang bersifat aktivitas, terdiri atas kegiatan, bermain, kebiasaan sehari-hari, dan upacara keagamaan.
  • Berbagai orang yang ada di sekitar anak dapat dibedakan dalam usia, jenis kelamin, pekerjaan, status kesehatan, dan tingkat pendidikan.
  • Sistem nilai, sikap, dan norma. Ekologi anak akan lebih baik apabila anak diasuh dalam lingkungan yang menanamkan disiplin yang konsisten.
  • Komunikasi antaranak dan orang tua di sekelilingnya akan menentukan perkembangan social anak.
  • Hubungan yang hangat dan anak merasa kebutuhannya terpenuhi oleh lingkungannya akan menghasilkan perkembangan kepribadian yang lebih baik.

  • Ruang Lingkup Pengembangan Berbagai Aspek dalam PAUD

            Ruang lingkup pengembangan berbagai aspek dalam PAUD meliputi moral dan keagamaan, fisik atau motorik, bahasa, kognitif, sosio-emosional, dan seni.

  • Moral dan Nilai Keagamaan

Carol Seefeldt, dkk. (2008) menyebutkan bahwa perkembangan keagamaan meliputi pembiasaan perilaku positif, kemandirian, dan disiplin. Nilai moral sangat dibutuhkan agar anak dapat membedakan hal yang baik dan buruk.



  • Fisik/Motorik

Perkembangan motorik anak memang berbeda sesduai dengan usianya. Pendidik harus bisa membedakan antara motorik kasar dan halus sehingga anak dapat berkembang sesuai dengan usianya. Anak dibawah lima tahun dapaat dirangsang dengan permainan yang edukatif. Misalnya: permainan bola tali yang akan merangsang refleks tangannya.

  • Bahasa

Dengan mengetahui perkembangan bahasa anak maka dapat diketahui cara menghadapi anak dalam hal berkomunikasi. Jika ada anak yang perkembangan bahasanya lambat maka bisa dirangsang dengan berbagai cara.

  • Kognitif

Perkembangan kognitif anak mengacu pada perkembangan kecerdasaan anak. Piaget dalam Hariwijaya dan Bertiani Eka Sukaca (2009) menyebutkan bahwa perkembangn kognitif anak dibagi dalam empat periode, yaitu periode sensorimotor, periode praoperasional,periode operasional konkret, dan periode operasional formal.

  • Sosio-emosional

Perkembangan ini meliputi perkembangan perasaan dan emosi serta pengembangan kemampuan sosial. Anak yang perkembangan sosio-emosinya baik maka akan meningkatkan kepekaan terhadap kehidupan bermasyarakat. Dengan ini anak diharapkan dapat memperoleh kecerdasan intrapersonal, interpersonal, dan naturalistik.



  • Seni

pengembangan seni dapat dituangkan dalam seni musik, tari, gambar, dan keterampilan kerajinan tangan. Dengan demikian anak diharapkan dapat memiliki kecerdasan musikal dan visual spatial.

KESIMPULAN

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dilaksanakan atas dasar kebanyakan orang tua merasa tidak mampu memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. PAUD juga didasarkan akan pentingnya pendidikan untuk anak usia dini dalam menyiapkan manusia Indonesia seutuhnya, serta membangun masa depan anak-anak dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Hal ini didasarkan kepada beberapa penemuan para ahli tentang tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Kebijakan pelaksanaan pendidikan bagi anak usia dini didasarkan pada tiga pilar kebijakan yaitu (1) Perluasan dan pemerataan layanan PAUD kepada semua anak, (2) Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing, dan (3) Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik.

Ruang lingkup PAUD meliputi tiga aspek yaitu, materi pembelajaran PAUD, lingkungan anak usia dini, dan pengembangan aspek-aspek dalam PAUD (moral dan keagamaan, motorik, bahasa, kognitif, sosio-emosional, dan seni).


Info Terbaru Untuk Yang Ingin Kursus HP Tentunya Terbaik Di Indonesia. Selengkapnya Kunjungi Situs Utama di www.lampungservice.com  Cv Lampung Service Pelatihan Seminar Terbaik Di Indonesia : Tengah Metro Pesawaran Tanjung Karang Kedaton Pahoman Way Halim Tulang bAwang Krui Menggala Kota Bumi Way Lima Teluk Betung Panjang Natar Kalianda Tegineneng Blambangan Umpu Danau Ranau Gedong Tataan

Sabtu, 12 Juni 2010

klasifikasi makhluk hidup

klasifikasi makhluk hidup Di dunia terdapat tidak kurang dari 500 juta macam organisme. Organisme tersebut memiliki ciri – ciri yang beraneka ragam. Begitu beragamnya organisme ini sehingga di perlukan suatus sistem untuk mengenal dan mempelajarinya. Beberapa ahli biologi mencoba menciptakan suatu sistem untuk mempermudah mengenal dan mempelajari organisme melalui suatu cara pengkalsifikasian. Pengklasifikasian merupakan proses berdasarkan ciri tertentu. Pengertian Istilah Makna Artikel Ilmu Pendidikan Konten


Organisme yang mempunyai ciri-ciri yang sama di kumpulkan sebagai satu kelompok. Ciri-ciri kelompok telah mewakili sifat-sifat individu. Sebagai contoh, kambing, sapi, dan kerbau merupakan kelompok hewan memamah biak ( ruminansia ).

Dengan meningkatnya peradaban manusia, terutama pengetahuan tentang manfaat makhluk hidup sebagai obat dan bahan pangan, maka keperluan akan nama makhluk hidup semakin besar. Maka mulai diperlukan suatu penggolongan atau klasifikasi makhluk hidup berdasarkan pemikiran yang rasional. Misalnya penggolongan berdasarkan persamaan ciri, cara hidup, tempat hidup, daerah penyebaran, dan sebagainya.

Dari  dunia makhluk hidup yang beragam-ragam tersebut kita juga dapat melihat dari makhluk berstruktur sederhana hingga makhluk yang berstruktur lebih kompleks. Struktur yang dimaksudkan di sini adalah struktur penyusunnya. Seperti telah kita ketahui bersama, contoh makhluk hidup berstruktur lebih kompleks adalah manusia/hewan dan tumbuhan.

Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi.

Semua organisme selular terbagi ke dalam dua golongan besar berdasarkan jumlah selnya yaitu

a.       Multiseluler

b.      Uniseluler

Multi seluler adalah makhluk hidup yang memiliki jumlah sel lebih dari satu atau bersel banyak. Sedangkan uniseluler adalah makhluk hidup yang memiliki sel tunggal.

Pada makhluk hidup juga dapat dilihat dari arsitektur basal dari selnya terbagi pula ke dalam beberapa kelompok yaitu

a.       organisme prokariota dan

b.      organisme eukariota.

Organisme prokariota tidak memiliki inti sel dan mempunyai organisasi internal sel yang relatif lebih sederhana. Prokariota terbagi menjadi dua kelompok yang besar: eubakteria yang meliputi hampir seluruh jenis bakteri, dan archaea, kelompok prokariota yang sangat mirip dengan bakteri dan berkembang-biak di lingkungan yang ekstrim seperti sumber air panas yang bersifat asam atau air yang mengandung kadar garam yang sangat tinggi. Genom prokariota terdiri dari kromosom tunggal yang melingkar, tanpa organisasi DNA.

Organisme eukariota memiliki organisasi intraselular yang jauh lebih kompleks, antara lain dengan membran internal, organel yang memiliki membran tersendiri seperti inti sel dan sitoskeleton yang sangat terstruktur. Sel eukariota memiliki beberapa kromosom linear di dalam nuklei, di dalamnya terdapat sederet molekul DNA yang sangat panjang yang terbagi dalam paket-paket yang dipisahkan oleh histon dan protein yang lain.

Dalam makalah ini membahas mengenai sel mikroba. Sel mikroba adalah adalah sel yang terdapat pada tubuh makhluk hidup mikroorganisme. Salah satu makhluk mikroorganisme adalah bakteri.

I.                                           Bakteri

Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain. Bakteri adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik (mikroskopis). Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada tempat-tempat yang ekstrim. Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan.

Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan makhluk hidup yang lain.

A.      Ciri-ciri BakteriBakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannnya dengan mahluk hidup lain yaitu :

1.      Organisme multiselluler

2.      Prokariot (tidak memiliki membran inti sel )

3.      Umumnya tidak memiliki klorofil

4.      Memiliki ukuran tubuh yang bervariasi antara 0,12 s/d ratusan mikron umumnya memiliki ukuran rata-rata 1 s/d 5 mikron.

5.      Memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam

6.      Hidup bebas atau parasit

7.      Yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas,kawah atau gambut dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan

8.      Yang hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung peptidoglikan

B.       Struktur Bakteri

Struktur bakteri terbagi menjadi dua yaitu:

a.       Struktur dasar (dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri)
Meliputi: dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula penyimpanan.

b.      Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu)
Meliputi kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, Vakuola gas dan endospora.

C.       Struktur Dasar Sel Bakteri

Struktur dasar bakteri :

a.       Dinding sel tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan polisakarida (ketebalan peptidoglikan membagi bakteri menjadi bakteri gram positif bila peptidoglikannya tebal dan bakteri gram negatif bila peptidoglikannya tipis).

b.      Membran plasma adalah membran yang menyelubungi sitoplasma tersusun atas lapisan fosfolipid dan protein.

c.       Sitoplasma adalah cairan sel.

d.      Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun atas protein dan RNA yang berfungsi sebagai sintesa protein.

e.       Granula penyimpanan, karena bakteri menyimpan cadangan makanan yang dibutuhkan.


Info Terbaru Untuk Yang Ingin Kursus HP Tentunya Terbaik Di Indonesia. Selengkapnya Kunjungi Situs Utama di www.lampungservice.com  Cv Lampung Service Pelatihan Seminar Terbaik Di Indonesia : Tengah Metro Pesawaran Tanjung Karang Kedaton Pahoman Way Halim Tulang bAwang Krui Menggala Kota Bumi Way Lima Teluk Betung Panjang Natar Kalianda Tegineneng Blambangan Umpu Danau Ranau Gedong Tataan

Kamis, 10 Juni 2010

menjaga suhu tubuh

BAB I menjaga suhu tubuh

PENDAHULUAN Pengertian Istilah Makna Artikel Ilmu Pendidikan Konten

a. Latar Belakang

Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37°C. Apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan merangsang untuk melakukan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap.

Upaya-upaya yang kita dilakukan untuk menurunkan suhu tubuh yaitu mengenakan pakaian yang tipis, banyak minum, banyak istirahat, beri kompres, beri obat penurun panas (Harold S. Koplewich, 2005). Ada beberapa teknik dalam memberikan kompres dalam upaya menurunkan suhu tubuh antara lain kompres hangat basah, kompres hangat kering (buli-buli), kompres dingin basah, kompres dingin kering (kirbat es), bantal dan selimut listrik, lampu penyinaran, busur panas (Anas Tamsuri, 2007). Dalam postingan kali ini, kita akan berfokus pada penggunaan teknik kompres hangat dalam upaya menurunkan suhu tubuh.

b. Rumusan Masalah

- Bagaimana tinjauan teori mengenai regulasi suhu dan proses konduksi

- Bagaimana regulasi suhu dan proses konduksi pada system integument

c. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar jurusan keperawatan khususnya pada mata kuliah Keperawatan Integumen mengenai “Regulasi Suhu dan Proses Konduksi” .

2. Tujuan Khusus.

- Untuk mengetahui tinjauan teori mengenai regulasi suhu dan proses konduksi.

- Untuk mengetahui mengenai regulasi suhu dan proses konduksi pada system integument.


BAB II

TINJAUAN TEORI

Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer untuk mengukur suhu dengan valid.

Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut. Suhu juga disebut temperatur yang diukur dengan alat termometer. Empat macam termometer yang paling dikenal adalah Celsius, Reumur, Fahrenheit dan Kelvin

Manusia dan binatang menyusui mempunyai kemampuan untuk memelihara suhu tubuh relative konstan dan berlawanan dengan suhu lingkungan. Kepentingan dipertahankan suhu tubuh pada manusia adalah berhubungan dengan reaksi kimia didalam tubuh kita. Mis kenaikan suhu 10 derajat Celcius bisa mempercepat proses biologis 2 - 3 kalinya. Suhu inti (core temperature) manusia berfluktuasi + 1 derajat Celcius dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya paling rendah adalah pada waktu pagi hari (jam 4 - 6 subuh) dan mencapai puncaknya pada sore hari (jam 2 - 3 sore).

Kulit dan Homeostasis

    Reseptor panas dan dingin terletak dalam kulit. Saat suhu tubuh meningkat, hypothalamus mengirimkan sinyal saraf menuju kelenjar keringat dan menyebakan pelepasan air sekitar 1-2 liter perjam untuk mendinginkan tubuh.
    Hipothalamus juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah di kulit membuat lebih banyak darah mengalir ke area tersebut dan menebabkan panas terlepa dri permukaan kulit.
    Saat suhu tubuh menurun, kelenjar keringat mengkerut dan produksi keringat berkurang. Jika suhu tubuh terus menerus berkurang, tuuh akan menjaga thermiogenesis, dengan cara meningkatkan laju metabolisme dan dengan menggigil.
    Kehilangan air lewat kulit berlangsung dalam dua cara; a. penguapan dan b. berkeringat.




BAB III

PEMBAHASAN

REGULASI SUHU TUBUH DAN PROSES KONDUKSI

A. Kulit sebagai Pengatur Suhu

Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh.

Di samping itu di dalam kulit juga terdapat reseptor berbagai macam sensasi, sati di antaranya oleh termoreseptor. Bagaimana kulit berperan sebagai pengatur suhu, dapat dijelaskan sebagai berikut.

Bila tubuh merasa panas, ada kecendrungan tubuh meningkatkan kehilangan panas ke lingkungan; bila tubuh merasa dingin, maka kecendrungannya menurunkan kehilangan panas. Jumlah panas yang hilang ke lingkungan melalui radiasi dan konduksi – konveksi sangat di tentukan oleh perbadaan suhu antara kilit dan lingkungan eksterna. Bagian pusat tubuh merupakan ruang yang memiliki suhu yang di jaga tetap sekitar 37 derajat selsius.

Mengelilingi pusat tubuh adalah lapisan kulit dimana terjadi pertukaran panas antara tubuh dan lingkungan luar. Dalam usaha memelihara kekonstanan suhu pusat tubuh, kapasitas insulatif dan suhu kulit dapat di atur ke berbagai gradient suhu antara kulit dan lingkungan eksterna, dengan cara demikian mempengaruhi tingkat kehilangan panas.

Kapasitas insulatif kulit dapat di ibah-ubah dengan mengontrol jumlah darah yang mengalir melalui kulit. Darah yang mengalir ke kulit melayani 2 fungsi. Pertama, menyediakan pasok makanan ke kulit. Kedua, karena darah di pompa ke kulit dari jantung, maka darah membawa panas dari pusat tubuh ke kulit. Aliran darah ke kulit terutama berfungsi meregulasi suhu. Pada suhu kamar yang normal, 20-30 lebih darah mengalir melaluikulit untuk keperluan nutrisi.

Pada proses termoregulasi, aliran darah kulit dapat sangat berubah-ubah, dari 400 ml sampaI 2.500 ml/menit. Lebih banyak darah mencapai kulit dari pusat tubuh yang panas, maka suhu kulit lebih dekat ke suhu pusat. Pembuluh darah kutaneus menghadapi keefektivan kulit sebagai suatu insulator dengan membawa panas ke permukaan, dimana suhu ini dapat hilang dari tubuh melalui radiasi dan konduksi – konveksi. Jadi, vasodilatasi pembuluh darah kulit, yang memungkinkan peningkatan peningkatan aliran darah panas ke kulit, akan meningkatkan kehilangan panas. Sebaliknya vasokontriksi pembuluh darah kulit mengurangi aliran darah ke kulit, dengan demikian menjaga suhu pusat tubuh konstan,dimana darah diinsulasi dari lingkungan eksternal, jadi menurunkan kehilangan panas.

Bagaimanapun, kulit bukan merupakan insulator yang sempurna, bahkan dengan vasokonstriksi yang maksimum. Meskipun aliran darah ke kulit minimal, sebagian panas tetap di transfer melalui konduksi dari organ lebih dalam ke permukaan kulit dan kemudian di lepaskan dari kulit ke lingkungan.

Respon-respon vasomotor kulit ini dikoordinasi oleh hipotalamus melalui jalur system saraf simpatik. Aktifitas simpatik yang di tingkatkan ke pembuluh kutaneus menghasilkan penghematan panas vasokonstiksi untuk merespon suhu dingin,sedangkan penurunan aktivitas simpatetik menghasilkan kehilangan panas vasodilatasi pembuluh darah kulit sebagai respon terhadap suhu panas.

Kulit sebagai orga pengatur panas. Suhu tubuh seseorang adalah tetap, meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal ini dipertahankan karena penyusaian antara panas yang hilang dan panas yang dihasilkan, yang diatur oleh pusat pengatur panas. Pusat ini segera menyadari bila ada perubahan pada panas tubuh, karena suhu darah yang mengalir melalui medulla oblongata. Suhu normal ( sebelah dalam ) tubuh, yaiti suhu visera dan otak adalah 36-37C. Suhu kulit sedikit lebih rendah.

Persyarafan vaso-motortik mengendalikan anterior kutan dengan 2 cara, yaitu vaso-dilatasi dan vaso-kontriksi. Pada vas -dilatasi anteriol memekar, kulit menjadi lebih panas, dan kelebihan panas cepat terpancar dan hilang, dan juga hilang karena kelenjar keringat bertambah aktif, dan karena itu terjadi penguapan cairan dari permukaan tubuh. Pada vaso-kontriksi pembuluh darah dalam kulit mengerut, kulit menjadi pucat dan dingin, keringat hampir dihentikan, dan hilangnya panas dibatasi. Dengan pengendalian ini pelepasan panas ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan tubuh. Kulit adalah organ utama yang berurusan dengan.

Panas dilepas oleh kulit dengan berbagai cara yaitu:

    Dengan penguapan, jumlah keringat yang dibuat tergantung dari banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh darah kulit.
    dengan pemancaran, panas yang dilepas ke udara sekitarnya.
    dengan konduksi, panas dialihkan ke benda yang disentuh, seperti pakaian.
    dengan konveksi ( pengaliran ) karena mengalirnya udara yang telah panas, maka udara yang menyentuh permukaan tubuh diganti dengan udara yang lebih dingin.

Cara mendinginkan tubuh yang terlampau panas, baik dengan membiarkan udara mengalir menyentuh kulit dengan cara mengipas, mengusap badan, atau merendam kedalam air dingin.

Mekanisme Kehilangan Panas Melalui Kulit

a. Radiasi
Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas inframerah. Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 – 20 mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas. Panas adalah energi kinetic pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat di pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit. Sekali suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu udara menjadi sama dan tidak terjadi lagi pertukaran panas, yang terjadi hanya proses pergerakan udara sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin dari suhu tubuh.

b. Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada di sekitar tubuh. Biasanya proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua mekanisme, yaitu kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative jauh lebih kecil dari pada paparan dengan udara, dan sifat isolator benda menyebabkan proses perpindahan panas tidak dapat terjadi secara efektif terus menerus.

c. Evaporasi
Evaporasi ( penguapan air dari kulit ) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu gram air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450 – 600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12 – 16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara terus menerus melalui kulit dan system pernafasan.

d. Konveksi
Perpindahan panas dengan perantaraan gerakan molekul, gas atau cairan. Misalnya pada waktu dingin udara yang diikat/dilekat pada tubuh akanàmenjadi dipanaskan (dengan melalui konduksi dan radiasi) kurang padat, naik dan diganti udara yang lebih dingin. Biasanya ini kurang berperan dalam pertukaran panas.

B. Kelenjar Keringat

Kelenjar keringat merupakan kelenjar eksokrin yang eksresinya dikeluarkan melalui pori- pori yang tersebar luas di seluruh permukaan kulit. Kelenjar keringat dibedakan menjadi dua macam berdasarkan atas sekresinya, yaitu :

1. Kelenjar ekrin .

Kelenjar ekrin, tersebar di seluruh permukaan tubuh, memproduksi keringat jernih yang terutamamengandung air,NaCl, dan urea.

2. Kelenjar apokrin

Kelenjar apokrin dijumpai terutama pada ketiak dan daerah genital. Disamping mensekresikan air, NaCl, dan urea, kelenjar ini juga mensekresikan zat dari bahan dasar protein bersusu yang merupakan medium ideal untuk mikroorganisme yang berada dalam kulit.

Kelenjar keringat, berada di bawah pengendalian system saraf. Di samping sebagai alat eksresi, kelenjar keringat merupakan bagian penting dari alat regulasi suhu tubuh. Bila suhu lingkungan cukup panas, maka kelenjar keringat akan mensekresikan keringat kepermukaan tubuh untuk kemudian di uapkan airnya. Penguapan ini menggunakan panas tubuh, sehingga dengan demikian penguapan keringat berlaku sebagai system keadaan darurat untk membebaskan panas apabila system pendingin pembuluh darah tidak bekerja dengan baik untuk memelihara homeostasis.Kehilangan panas dan penyimpanan panas di atur melalui vasodilatasi pembuluh-pembuluh darah kulit atau sekresi kelenjar keringat.

C. Pengertian suhu tubuh

Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang dproduksi oleh proses tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar.adapun tempat pengukuran suhu tubuh:suhu inti yaitu suhu jaringan dalam relatif konstan seperti rektum, membran timpani, esofagus, arteri pulmoner, kandung kemiih dan suhu permukaan seperti kulit, aksila, oral. Rasa suhu mempunyai dua submodalitas yaitu rasa dingin dan rasa panas. Reseptor dingin/panas berfungsi mengindrai rasa panas dan refleks pengaturan suhu tubuh. Reseptor ini dibantu oleh reseptor yang terdapat di dalam system syaraf pusat. Dengan pengukuran waktju reaksi, dapat dinyatakan bahwa kecepatan hantar untuk rasa dingin lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan hantaran rasa panas.

Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37°C. Apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan merangsang untuk melakukan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap.

Dengan anestesi blok rasa dingin/panas dapat diblok sehingga objektif maupun subjektif rasa dingin dan panas dapat dipisah yaitu:

1. Rasa suhu kulit yang tetap ( rasa suhu static ). Bila seseorang berendam di air hangat maka mula-mula rasa hangat akan dialami oleh orang tersebut. Lama-kelamaan rasa hangat tidak lagi dirasakan dan kalau ia keluar dari air dan masuk kembali maka ia akan merasakan hangat kembali. Hal ini terjadi karena suhu tubuh beradaptasi secara penuh terhadap suhu kulit yang baru. Adaptasi penuh ini terjadi pada uhu netral ( suhu nyaman ). Rasa hangat yang mantap akan dirasakan bila suhu berada di atas 36C dan rasa dingin dirasakan pada suhu 17C.

2. Rasa suhu kulit yang berubah ( rasa suhu dinamik ). Pada pengindraan suhu kulit yang berubah tiga parameter tertentu. Suhu awal kulit, kecepatan perubahan suhu dan luas kulit yang terpapar tehadap rangsangan suhu. Pada suhu kulit yang rendah, ambang rasa hangat tinggi sedangkan untuk rasa dingin rendah. Bila suhu meninkat ambang rasa hangat menurun dan ambang rasa dingin meningkat. Kecepatan perubahan suhu berpengaruh terhadap timbulnya rasa panas/dingin. Luasnya daerah kulit yang terpapar juga berpengaruh pada rasa timbulnya panas/dingin.

3. Titik rasa dingin dan panas. Pada permukaan kulit bagian-bagian yang peka terhadap rangsangan dingin dan panas terlokasi pada titik-titik tertentu. Kepadatan titik-titik rasa suhu lebih rendah dibandingkan dengan titik rasa raba/tekan. Titik rasa dingin lebih banyak dibandingkan dengan titik rasa panas. Kulit wajah daerah yang paling peka terhadap rasa suhu. Kepadatan titik-titik rasa dingin paling tinggi.

Sifat-sifat reseptor suhu:

a. Selalu mengeluarkan impuls pada suhu kulit yang konstan frekuensinya bergantung pada suhu kulit itu sendiri.

b. Pada penurunan/peningkatan suhu akan terjadi perubahan frekuensi impuls

c. Tidak peka terhadap rangsangan lain.

d. Ambang rangsang sesuai dengan kepekaan rasa suhu manusia terhadap rangsang suhu dikulit.

e. Mempunyai daerah reseptif yang sempit, setiap serat eferen mensarafi satu atau beberapa titik rasa suhu saja.

D. Macam – macam suhu tubuh

Macam-macam suhu tubuh menurut (Tamsuri Anas 2007) :

    Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36°C
    Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 – 37,5°C
    Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 – 40°C
    Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40°C

Berdasarkan distribusi suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti (core temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada jaringan dalam, seperti kranial, toraks, rongga abdomen, dan rongga pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif konstan (sekitar 37°C). selain itu, ada suhu permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada kulit, jaringan sub kutan, dan lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi sebesar 20°C sampai 40°C.

E. Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh

1. Kecepatan metabolisme basal

Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait dengan laju metabolisme.

2. Rangsangan saraf simpatis.

Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hamper seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.

3. Hormone pertumbuhan.

Hormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.

4. Hormone tiroid.

Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.

5. Hormone kelamin.

Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6°C di atas suhu basal.

6. Demam ( peradangan ).

Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10°C.

7. Status gizi.

Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 – 30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain.

8. Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 – 40,0 °C.

9. Gangguan organ.

Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.

10. Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.

Suhu tubuh dihasilkan dari :

1. Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR) di semua sel tubuh.

2. Laju cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot (termasuk kontraksi otot akibat menggigil).

3. Metabolisme tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dan sebagian kecil hormon lain, misalnya hormon pertumbuhan (growth hormone dan testosteron).

4. Metabolisme tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine, dan rangsangan simpatis pada sel.

5. Metabolisme tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi di dalam sel itu sendiri terutama bila temperatur menurun.

F. Mekanisme Tubuh Ketika Suhu Tubuh Berubah
1. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat yaitu :

a. Vasodilatasi

Vasodilatasi pembuluh darah perifer hampir dilakukan pada semua area tubuh. Vasodilatasi ini disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior yang menyebabkan vasokontriksi sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang memungkinkan percepatan pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih banyak.

b. Berkeringat

Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas kritis, yaitu 37°C. pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1°C akan menyebabkan pengeluaran keringat yang cukup banyak sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari metabolisme basal 10 kali lebih besar. Pengeluaran keringat merupakan salh satu mekanisme tubuh ketika suhu meningkat melampaui ambang kritis. Pengeluaran keringat dirangsang oleh pengeluaran impuls di area preoptik anterior hipotalamus melalui jaras saraf simpatis ke seluruh kulit tubuh kemudian menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergic kelenjar keringat, yang merangsang produksi keringat. Kelenjar keringat juga dapat mengeluarkan keringat karena rangsangan dari epinefrin dan norefineprin.

c. Penurunan pembentukan panas

Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti termogenesis kimia dan menggigil dihambat dengan kuat.

2. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh menurun, yaitu :

a. Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh

Vasokontriksi terjadi karena rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus posterior.

b. Piloereksi

Rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat pada folikel rambut berdiri. Mekanisme ini tidak penting pada manusia, tetapi pada binatang tingkat rendah, berdirinya bulu ini akan berfungsi sebagai isolator panas terhadap lingkungan.

c. Peningkatan pembentukan panas

Pembentukan panas oleh sistem metabolisme meningkat melalui mekanisme menggigil, pembentukan panas akibat rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi tiroksin.

BAB IV

PENUTUP

a. Kesimpulan

Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh.

Bila tubuh merasa panas, ada kecendrungan tubuh meningkatkan kehilangan panas ke lingkungan; bila tubuh merasa dingin, maka kecendrungannya menurunkan kehilangan panas. Jumlah panas yang hilang ke lingkungan melalui radiasi dan konduksi – konveksi sangat di tentukan oleh perbadaan suhu antara kilit dan lingkungan eksterna.

b. Saran
Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi semua orang yang membacanya. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat membantu mata kuliah “Keperawatan Integumen”. Selain itu diperlukan lebih banyak referensi dalam penyusunan makalah ini agar lebih baik.


Info Terbaru Untuk Yang Ingin Kursus HP Tentunya Terbaik Di Indonesia. Selengkapnya Kunjungi Situs Utama di www.lampungservice.com  Cv Lampung Service Pelatihan Seminar Terbaik Di Indonesia : Tengah Metro Pesawaran Tanjung Karang Kedaton Pahoman Way Halim Tulang bAwang Krui Menggala Kota Bumi Way Lima Teluk Betung Panjang Natar Kalianda Tegineneng Blambangan Umpu Danau Ranau Gedong Tataan

Rabu, 09 Juni 2010

hakikat belajar dan pembelajaran

 BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

hakikat belajar dan pembelajaran Pengertian Istilah Makna Artikel Ilmu Pendidikan Konten Hakikat belajar dan pembelajaran merupakan hal yang sangat penting untuk kita pelajari sebagai calon pendidik.  Banyak para pendidik yang tidak mengetahui atau pun memahami hakikat belajar dan pembelajaran ini, sehingga banyak pendidik yang menerapkan system pembelajaran tanpa mengetahui hakikat belajar dan pembelajaran tersebut.

Agar dapat berkembangnya proses ataupun system pembelajaran untuk menciptakan peserta didik yang berkualitas, maka diperlukan adanya pemahaman tentang hakikat belajar dan pembelajaran. Dan sebagai pendidik kita juga harus mengetahui jenis-jenis belajar yang akan kita gunakan untuk proses  Pengertian Istilah Makna Artikel Ilmu Pendidikan Konten pembelajaran.

B.     RUMUSAN MASALAH

Adapun perumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.      Apakah hakikat dan pengertian dari belajar dan pembelajaran?
2.      Apa saja ciri-ciri belajar dan pembelajaran?
3.      Apa saja unsur-unsur belajar dan pembelajaran?
4.      Apakah hasil dari belajar dan pembelajaran itu?

C.     TUJUAN

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Dapat mengetahui dan menjelaskan hakikat dan pengertian belajar dan pembelajaran itu
2.      Dapat mengetahui dan  menjelaskan ciri-ciri belajar dan pembelajaran.
3.      Dapat mengetahui dan menjelaskan unsur-unsur belajar.
4.      Dapat mengetahui hasil dari belajar dan Pembelajaran.

BAB II

ISI

               Sebelum kita mempelajari hakikat belajar dan pembelajaran, terlebih dahulu kita mengetahui Pengertian belajar dan Pembelajaran.

A. PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1.Pengertian Belajar

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata  belajar diartikan sebagai usaha untuk  memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. belajar tidak hanya merupakan suatu aktifitas yang dilakukan saat berada di sekolah, di universitas atau ditempat-tempat formal lain yang memberikan suatu pembelajaran, karena sebuah ilmu dapat kita temukan dimana saja, dengan belajar dapat merubah karakter seseorang baik itu berubah menjadi negative ataupun positif, sesuai dengan Pembelajaran yang mereka dapat. Seperti yang dikatakan oleh seorang ahli, Winkel mengatakan belajar adalah aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap. Jadi pada intinya kita sebagai makhluk  yang diciptakan oleh TUHAN Yang Maha ESA dengan sebuah akal, sehingga manusia mempunyai sebuah perasaan ingin tahu, dan dengan perasaan ingin tahu maka manusia melakukan berbagai hal untuk mendapatkan sebuah jawaban, dan upaya untuk mengenali dan ingin tahu, ini merupakan hakikat belajar, belajar  merupakan panggilan hidup kita, bukan karena disuruh orang tua/guru/dosen atau siapa-pun, tetapi merupakan konsekwensi logik dari kehidupan yang akan terus berlangsung sepanjang hidup manusia. Tanpa belajar, kita tidak dapat melakukan ’proses menjadi’ diri kita, sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia

Beberapa ahli mendefenisikan tentang Pengertian belajar :
a.       James O. Whittaker (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah Proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

b.      Cronchbach (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

c.       Howard L. Kingskey (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.

d.      Drs. Slameto (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya.

e.       Djamarah, Syaiful Bahri, (Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

f.       R. Gagne (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) hal 22. Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku
g.      Herbart (swiss) Belajar adalah suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan pengalamn yang sebanyak-banyaknya dengan melalui hafaln

h.      Robert M. Gagne dalam buku: the conditioning of learning mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan karena proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalm diri dan keduanya saling berinteraksi.

i.        Lester D. Crow and Alice Crow (WWW. Google.com) Belajar adalah acuquisition of habits, knowledge and attitudes. Belajar adalah upaya-upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap.
j.        Ngalim Purwanto (1992) (WWW. Google.com) Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagi hasil dari suatu latihan atau pengalaman.

k.      Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

l.        Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.

m.    Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.

n.      Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”

o.      Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.

2.Pengertian pembelajaran
Menurut istilah “Pembelajaran” sama dengan “Intruction” atau “Pengajaran”. Pengajaran mempunyai arti cara ( Pembuatan ) mengajar atau mengajarkan. Pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pembelajaran adalah proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.

Pengertian pembelajaran menurut beberapa ahli :

a.       Duffy dan Roehler (1989). Pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum.

Gagne dan Briggs (1979:3). Mengartikan instruction atau pembelajaran ini adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.

Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Dari pengertian belajar dan pembelajaran di atas yaitu belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya dan Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.Jadi dapat diketahui bahwa belajar adalah panggilan hidup dan memerlukan instrumen-instrumen dalam proses belajar dan Pembelajaran.

Secara hakiki, sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa kehadiran kita di dunia ini atas kehendak Sang Pencipta, dibekali sejumlah potensi (lengkap) untuk menjadi seseorang yang dimaksudkan olehNya. Artinya,bila kita meminjam istilah teknik, cetak biru – ’blue print’ diri kita, ada pada Sang Pencipta; dan segala potensi serta perlengkapan yang diperlukan untuk menjadi ’yang tercetak di blue print tersebut’ telah dibekalkan dalam diri kita; sehingga kita dapat membangun diri ke arah tersebut. Tentu saja, kita perlu mengenali-mencari tahu apa yang dibekalkan kepada kita masing-masing; seperti apakah blue-print nya; perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk membangun-nya? Hal-hal apa yang masih perlu ditambahkan, dari mana bisa diperoleh, bagaimana mendapatkannya?Mengapa disain-nya demikian, untuk keperluan apa, untuk kepentingan siapa, dst. Upaya ’mengenali dan mencari tahu’ ini menjadi amat penting, sebab merupakan prasarat untuk upaya ’menjadi’ orang yang sesuai dengan yang dimaksudkan Sang Pencipta. Upaya mengenali dan mencari tahu’ ini merupakan dasar hakikinya belajar dan Pembelajaran , upaya itu berlangsung terus menerus sepanjang hidup .

Dengan demikian, belajar adalah panggilan hidup, bukan karena disuruh orang tua/guru/dosen atau siapa-pun, tetapi merupakan konsekuensi logik dari kehidupan. Tanpa belajar, kita tidak dapat melakukan ’proses menjadi’ diri kita, apalagi diri kita sesuai fitrah, sesuai kehendak-Nya, yang saya yakin baik adanya.

B. CIRI-CIRI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1.      Ciri-Ciri Belajar

Ciri-ciri belajar adalah sebagai berikut :
  • Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif).
  • Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan.
  • Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha. Perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
  • Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik/ kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.

2.      Ciri-Ciri Pembelajaran

Ciri-ciri pembelajaran sebagai berikut :

1. merupakan upaya sadar dan disengaja
2. pembelajaran harus membuat siswa belajar
3. tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan
4. pelaksanaannya terkendali, baik isinya, waktu, proses maupun hasilnya

C.UNSUR-UNSUR BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1. Unsur-Unsur Belajar

Unsur dinamis dalam belajar adalah unsur – unsur yang dapat berubah dalam
proses belajar. Unsur – unsur itu mungkin ada atau tidak dan mungkin melemah
atau menguat.

Adapun beberapa unsur itu adalah sebagai berikut :
a.       Motivasi dan upaya memotivasi siswa
b.      Bahan belajar dan upaya penyediaannya
c.       Alat bantu belajar dan upaya penyediaannya
d.      Suasana belajar dan upaya pengembangannya
e.       Kondisi subyek yang belajar dan upaya penyiapan serta peneguhannya

2.Unsur-Unsur Pembelajaran

Unsur Dinamis Pembelajaran Kongruen dengan Unsur Dinamis dalam Proses belajar siswa. Unsur dinamis yang ada pada guru utamanya adalah motivasi menjadi pendorong untuk mau dan berusaha membelajarkan siswa, yaitu untuk dapatnya siswa meraih tujuan pembelajaran. Demikian juga pada siswa, terdapat unsur dinamis, salah satunya adalah motivasi. Motivasi dalam hal ini menjadi pendorong atau penggerak dari dalam diri siswa.

a. Motivasi untuk membelajarkan siswa
Membelajarkan berarti membuat siswa belajar atau mengusahakan siswa belajar.
Motivasi adalah salah satu prasyarat yang sangat penting dalam belajar.
Guru di dalam membelajarkan siswanya hendaknya berperan mendorong,
motivator, agar motif – motif yang positif dibangkitkan dan ditingkatkan dalam
diri siswa
.
b. Kondisi guru agar dapat siap membelajarkan siswa
Untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik maka seorang guru harus mempunyai kompetensi yang sesuai dengan tuntutan masyarakat dewasa ini. Menurut W. Robert Houston dalam buku Kompetensi Mengajar dan Guru ( 1979,hal.3 ) disebutkan bahwa “Competence” ordinarily is defined as “adequacy” for a task or as “possession of require knowledge, skill, dan abilities”.

D.    HASIL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :
  • Informasi verbal, yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
  • Kecakapan intelektual, yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
  • Strategi kognitif, yaitu kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.
  • Sikap, yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
  • Kecakapan motorik, yaitu hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam :
  • Kebiasaan, seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
  • Keterampilan, seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.
  • Pengamatan, yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.
  • Berfikir asosiatif, yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.
  • Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why).
  • Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.
  • Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).
  • Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu.
  • Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.

BAB III

PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Belajar adalah suatu kegiatan yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku, baik potensial maupun aktual. Perubahan tersebut berbentuk kemampuan baru yang dimiliki dalam waktu lama dan terjadi karena usaha sadar yang dilakukan oleh individu yang sedang belajar. Dengan demikian, belajar adalah panggilan hidup kita, bukan karena disuruh orang tua/guru/dosen atau siapa-pun, tetapi merupakan konsekwensi logik dari kehidupan. Tanpa belajar, kita tidak dapat melakukan ’proses menjadi’ diri kita, apalagi diri kita sesuai fitrah, sesuai kehendak-Nya.

B.      SARAN
Sebagai seorang guru kita wajib mengetahui arti tentang belajar dan Pembelajaran,




 Info Terbaru Untuk Yang Ingin Kursus HP Tentunya Terbaik Di Indonesia. Selengkapnya Kunjungi Situs Utama di www.lampungservice.com  Cv Lampung Service Pelatihan Seminar Terbaik Di Indonesia : Tengah Metro Pesawaran Tanjung Karang Kedaton Pahoman Way Halim Tulang bAwang Krui Menggala Kota Bumi Way Lima Teluk Betung Panjang Natar Kalianda Tegineneng Blambangan Umpu Danau Ranau Gedong Tataan